Ini postingan hanya sekedar curhat aja, ada keanehan dalam kehidupan bertetangga, lucu pasti tapi inilah kenyataannya he he…
Sebelum menikah, orang mungkin mengenal kita dengan nama asli, nama kecil atau nama laennya. Tapi setelah menikah, lingkungan kitapun bertambah, teman dari suami, teman dari pihak suami (termasuk itu keluarga dari mertua laki2 & perempuan, sebenarnya sih ini bertambahnya keluarga ..) dengan demikian biasanyapun panggilan kitapun akan berubah. Contohnya Mona istrinya Diki loh, Mona mantunya pak Moesafak loh, Mona mantunya ibu Darsih loh…wkwkwkw, aneh memang tapi itulah kenyataanya. Tapi itu gak membuat saya untuk merubah nama saya. Keseharian, saya tetap menggunakan nama pemberian orang tua (karna dibelakang nama itu tertulis nama ayah saya, bangga.com). Agak aneh memang, tiba2 saya merubah atau menambahkan nama suami dibelakang nama saya, bukannya tidak bangga cuma aneh aja jadinya he he. Toh pemberian orang tua kita juga teramat bagus, untuk menambah nama suami dibelakang nama kok kesannya seperti dipaksainnya ya… he he. Tapi balik lagi, itu mah tergantung personalnya masing2. Gak ada untung ruginya sama sekali mau pake nama tambahan setelah kita menikah.
Tapi setelah mempunyai anak, pemberian nama ditentukan oleh suami. Saya tinggal ngumpulin buku2, tugas dy nyari nama. Saya tinggal menyetujui ataupun memolesnya sedikit tapi saya percaya dengan pilihan suami. Memoles dalam arti kata disini saya sama sekali tidak menggantinya malah menambahnya. Karna di keluarga saya semua anaknya perempuannya memakai nama ayah, sayapun punya keiginan kalo punya anak pengen ngasih nama ayahnya. Dan keinginan nama itupun disetujui sama suami. Walaupun mertua sempat komentar “kok panjang amat namanya???” (emang sih sampe 4 kata gitu he he). Ah sutralahhh….kita orangtuanya senang kok..:)
Berlanjut dari masalah nama lagi. Setelah punya anakpun nama sayapun berubah, bukan mbak Mona lagi (apalagi sekarang tinggal dikompleks yang banyak ibu2 muda seperti saya). Saya lebih dikenal dengan mamanya Iesha. Gw seneng kok mendengarnya..
Bahkan temen2 anak sayapun kalo nanya pasti ngomongnya…”mamanya Iesha, Ieshanya kemana??” wha ha ha, nama saya berubah setelah punya anak. Dinikmati aja he he. Bahkan ada juga kejadian saat seorang teman mencari rumah saya, pada saat mencari rumahnya mbak Mona orang gak tau, mbak Mona yang mana ya???? ho ho ho, temenpun kebingungan. Akhirnya dengan bermodal informasi seadanya dy ngomong, baru pindah kok ke daerah sini, kerjanya di O Cha_ _el??? oalahhhhhhhh, mamanya Iesha. wkwkwkw, asli gw dengernya ketawa tapi itulah kenyataanya. Sebenarnya kalo ditanya, para ibu2 tetangga itupun saya gak tau nama aslinya sapa. Yang saya tau seperti mamanya Ola, mamanya Nike, bunda Radith, mamanya Iren dll dsb
Dan kejadian laenpun terjadi yang membuat saya sedikit heran setengah mati. Suami bukanlah tipe orang yang suka nongkrong keluar rumah kalo lagi libur. Hidup dy hanya kerja – rumah (komputer, tv, tidur, bongkar motornya, melanjutkan hobby masak +ngebengkel). Suatu hari seperti kewajiban sebagai warga yang harus wajib bayar iuran ini dan itu. Kewajiban iuran RT mengharuskan saya untuk pergi kerumah sekretarisnya RT dan apa yang keluar dari mulut bapak yang satu itu : “eh ibu, mau bayar iuran ya ?? Pak Diki dah berangkat kerja ya????? haaaaaaaaaaaaaa??? kok bisa hapal dy nama suami saya, sementara di kertas iuran masih tertulis nama pemilik rumah yang asli?? aneh…..tp tetap gak ada yang tau nama asli saya *nangis guling-guling*