Dilema Ibu Bekerja

Pagi subuh selalu dibangunkan dengan sikecil minta susu, walaupun dengan mata yang masih teramat ‘kantuk membuatkannya sebotol susu. Biasanya itupun dilanjutkan dengan acara tidur lagi ( me & my girl, sementara si ayah masih dialam mimpinya he he). Tapi gak bisa lama, saya harus bekerja. Ingat kewajiban sebagai karyawan swasta (bukan pemilik perusahaan) yang harus dijalani. Berusaha melawan kantuk , kecapekan, keletihan yang teramat sangat (efek dari hari2 sebelumnya) mencoba untuk bangun. Kalo gak dipaksain seperti ini, semua pekerjaan dipagi hari juga akan berantakan. Inipun diakalin juga dengan mencuci semua yang kotor di malam harinya sebelum tidur (inilah kenapa saya selalu tidur diatas jam 10). Pagi tinggal melanjutkan kegiatan di pagi harinya. Buat sarapan (roti, makaroni susu keju…dll dsb, yang bisa mengganjal perut semua keluarga kecilku). Ini berlangsung selama gak ada ‘nanny’, kalaupun ada selama ini juga ‘nanny’ anakku gak pernah menginap, jadi tetap pekerjaan dipagi hari saya yang melakukan.

Disaat sikecil terbangun mendengar ‘keributan’ di dapur…’keribetan’ di rumahku menjadi ON. Dimulai dengan pelukan buat sikecil, permintaan minta gendong, bahan pertanyaan yang sebenarnya gak enak didengar…”Ibuk Kerja?????”….Iya, Ibuk kerja….”Enggak, ibuk gak kerja”…..aduh…lumayan perih didengar. Mungkin bagi ibu2 yang Full Time Mother ataupun para ibu yang bisa bekerja dari rumah perasaan ini tak pernah mereka alami. Inilah hidup yang saya pilih….

Mungkin gampang kok mencari jalan keluarnya. Berhenti aja kok repot. Oooo…gak segampang itu menjawab perasaan ini. Di kehidupan sekarang ini masalah financial adalah kunci utamanya. Bukannya tidak merasa cukup atas pemberian suami, tapi kehidupan ke depan buat si kecil masihlah terlalu panjang. Mungkin itu tidak/belum akan dialami bagi keluarga2 kecil laennya yang masih di dalam lingkungan keluarga besarnya. Bagi saya, setiap pengeluaran buat keluarga kecilku harus benar2 kita perhitungkan. Mulai dari kontrakan (gak mau lama2 juga kl yang ini), belanja bulanan, asuransi anak+kesehatan, biaya ‘nanny’, transportasi, biaya sehari2, pengeluaran tak terduga, rekreasi he he….(penting lo….). Kayaknya kalo hari gini ‘double income’  agak susah untuk waktu kedepannya. Apalagi ada kesempatan untuk saya bekerja, yang mungkin jauh lebih beruntung dibandingkan orang2 yang belum bekerja ataupun tidak berkesempatan lagi untuk bekerja. Apa salah kalo saya mengambil kesempatan ini???? Bukannya ‘egois’ jadi manusia, tapi inilah resiko yang haus diambil. Ini juga dilakukan untuk keluarga

Pertanyaan2 itu selalu keluar dari mulut sikecil, dan itupun akan selalu sasya jawab dengan versi jawaban saya sendiri. Tapi sehabis itu, dypun berlalu dengan aktivitasnya. Untuk mengalihkan perhatiannya selaen menonton tayangan kesayangannya di televisi, saya ajak dy ke tukang sayur he he..biasa buat stock di kulkas ataupun sekedar membeli alternatif sarapan laen.

Aktivitas laenpun berlanjut. Setelah menyuapinya sarapan, memandikannya, pokoknya rapi deh kalo mesti ditinggal dirumah dan rumahpun selalu dalam keadaan rapi ditinggalkan. Sayapun bersiap untuk berangkat kerja dan itupun tak lupa dengan membawanya ‘muter’ dulu dengan si ‘miemie’ku. Sekedar untuk menyenangkan dy saja he he. Ini semata-mata dilakukan menghilangkan rasa dilema ini meninggalkannya. Kalopun nyampe kantor saya termasuk ibu yang agak jarang menelponnya, itupun hanya sekedar mengurangi rasa perih ini dengan pertanyaan ” buk….endong” (teuteup via telpon minta gendong he he). Tapi percaya nak….I always miss & luv U

NB : kemaren si mbahnya dah bawa ‘nanny’ dr kampung. Mudah2an emang ini yang terbaek.amin……..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.